My Info

.: SELAMAT DATANG :.

Terimakasih sudah berkunjung disini, Saya berharap semoga artikel di Blog ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan bagi kita.

Catatan Pesan :

"Aku tidak pernah tahu hari akhir yang akan ditetapkan untukku, maka kujadikan hari-hariku seluruhnya layaknya hari terakhir, karena bisa saja dan pasti datangnya diantara hari-hariku nanti ada yang menjadi hari terakhir bagiku..."

Yan Sofyanz

    -

27 September 2013

Belajar Menangis...

Bila orang menangis karena mendapat musibah, itu sudah biasa. Jika sekali waktu kita menangis karena merasakan sakit, ini juga sering terjadi. Tangis-menangis karena suatu sebab seperti hal-hal yang demikian tadi adalah biasa dan wajar karena timbul dari rasa iba hati, rasa sedih diri, atau karena merasakan sakit.

Namun pernahkan kita menangis tanpa sebab atau akibat yang belum pernah kita rasakan dan terjadi pada diri kita, atau dalam lingkungan kita? Pernahkan kita membayangkan suatu peristiwa yang belum tahu kejadiannya, dan tidak pernah terbayang dalam benak, kemudian karenanya lebih dahulu kita menangis? Boleh jadi hal demikian belum pernah terjadi, sebab bagaimana mungkin itu terjadi kalau tidak dengan perantara sebab akibat? Apa yang kita tangisi?

Tetapi belajarlah menangisi diri dihadapan Allah!
Merenung sejenak sembari menyesali berbagai kekeliruan kita selama ini, kemudian mulailah belajar menangis. Air mata yang menetes di keheningan malam, ditengah suasana lantunan do’a dan istighfar berangkat dari rasa kekhawatiran yang dalam, pertanda kita masih punya hati nurani.
Selayaknya kita merasa sedih dan berduka cita seandainya Dia (Allah) tidak berkenan dengan perilaku kita selama ini. Sepatutnya kita merasa khawatir jikalau amal ibadah kita tidak diterima-Nya. Bahkan, kita harus menyesal dan takut jika segala dosa-dosa kita tidak terampuni.

Belajarlah menangis seperti itulah yang harus dijadikan tradisi bagi setiap muslim. Tentu, bukan menangisnya yang dijadikan objek persoalan. Tapi penyesalan terhadap ibadah yang selama ini kita lalaikan. Boleh jadi, kebiasaan tersebut tak pernah atau jarang kita lakukan.

Alangkah kagumnya ketika kita teringat pada kaum salafus shalih (orang-orang salih terdahulu). Mereka tidak hanya mengerti tetapi juga meresapi dan mengamalkan seluruh ajaran-ajaran Islam. Sehingga wajar ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, lalu bergetarlah hati mereka.
Lalu bagaimanakah dengan diri kita? Sudahkah hati kita bergetar pada saat ayat-ayat suci Al-Qur’an itu dilantunkan? Alangkah indahnya bila kita termasuk orang-orang yang disebutkan oleh Al-Qur’an ,
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal" (QS Al Anfal: 2).
"Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu" (QS Al-Isra’: 109)
Hati yang mati karena pengaruh gemerlapnya duniawi selamanya akan menghapus perasaan khusyu’. Bila sudah sedemikian jauh, alangkah celakanya kita. Karena bila dalam kehidupan hari-hari ini kita tak dapat menangis, maka kita akan menangis dalam kehidupan lain (hari kiamat), sebagaimana Rasulullah SAW ingatkan: 
"Setiap mata akan menangis di hari kiamat kecuali mata yang telah menangis karena takut karena Allah dan mata yang berjaga (ribat) di jalan Allah," (HR Tirmidzi). 
Karena itu, mari kita belajar menangis sebelum ditangisi atau menangisi diri kita  sendiri kelak di akhirat.

Wallahu a'lam bi showab
Semoga bermanfaat.
read more

Nasehat Luqman Untuk Anak-Anaknya

Seperti kita tahu Luqman adalah tokoh orang tua yang bijak dalam mendidik anak yang diabadikan dalam Al-Qur'an, ada beberapa Nasehat dari Luqman kepada anaknya yang bisa kita ambil sebagai pelajaran kepada anak-anak kita ( tentu saja silahkan Anda rubah sesuai dengan kondisi ), nasehat-nasehat tersebut diantaranya :

  1. Anakku : jauhilah SYIRIK, karena itu akan mematikan hati menimbulkan MURKA Allah
  2. Anakku : janganlah berjalan di muka bumi dengan SOMBONG, karena itu akan menghancurkanmu
  3. Anakku : BERSYUKURLAH kepada Allah dan kepada kedua orang tuamu, karena Allah yang telah menciptakanmu dan orang tuamulah yang melahirkan, membesarkan dan mendidikmu.
  4. Anakku : ketahuilah sesungguhnya DUNIA BAGAIKAN LAUT YANG DALAM , banyak yang karam kedalamnya bila engkau ingin selamat , layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama taqwa, isinya ialah iman dan layarnya adalah tawakkal kepada Allah.
  5. Anakku : Orang yang senantiasa MENYEDIAKAN DIRINYA untuk MENERIMA NASEHAT, maka dirinya akan mendapatkan penjagaan dari Allah. Orang yang insyaf dan sadar setelah menerima nasihat orang lain, dia kan senantiasa menerima kemuliaan dari Allah juga.
  6. Anakku : Orang yang MERASA DIRINYA HINA DAN RENDAH dalam beribadah dan taat kepada Allah, jadilah tawadhu Kepada Allah , kau akan lebih dekat dengan Allah dan selalu berusaha menghindarkan maksiat kepada-Nya.
  7. Anakku : seandainya orang tuamu marah kapadamu karena kesalahanmu maka MARAHNYA ORANG TUA itu adalah laksana PUPUK bagi tanaman.
  8. Anakku : JAUKANLAH dirimu dari BERHUTANG, karena berhutang itu menjadikan dirimu hina diwaktu siang dan gelisah diwaktu malam.
  9. Anakku : Senantiasalah BERHARAP kepada Allah tentang sesuatu yang menyebabkan untuk tidak mendurhakai Allah. Takutlah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takut, tentulah engkau akan lepas dari sifat keputusasa'an dari Rahmat-Nya.
  10. Anakku : seorang PENDUSTA tidak lagi mempunyai sebuah kejujuran karena tidak lagi dipercayai orang lain dan orang yang telah rusak akhlaqnya akan senantiasa banyak berpikir hal-hal yang tidak benar. Ketahuilah , memindahkan batu besar ke tempatnya semula itu lebih mudah daripada memberi pengertian kepada orang yang tidak mau mengerti.
  11. Anakku : Engkau mungkin bisa merasakan betapa berat mengangkat batu besar yang amat berat, tetapi akan lebih berat lagi jika engkau mempunyai TETANGGA YANG JAHAT.
  12. Anakku : janganlah sekali-kali engkau mengutus seseorang yang BODOH menjadi utusan. Maka bila tidak ada orang yang mampu, sebaiknya dirimu sendirilah yang menjadi utusan.
  13. Anakku : JAUHILAH SIFAT DUSTA, sebab dusta itu akan memberikan akibat yang buruk.
  14. Anakku : bila engkau menghadapi dua pilihan, ta'ziyah atau menghadiri pesta perkawinan maka hendaklah engkau memilih untuk MELAYAT ORANG MATI, sebab melayat orang mati itu akan mengingatkanmu pada kampung akhirat, sedangkan menghadiri pesta perkawinan itu akan mengingatkanmu kesenangan duniawi saja.
  15. Anakku : Janganlah engkau makan makanan YANG BERLEBIHAN, karena sesungguhnya makan yang terlalu kenyang itu tidak baik alangkah bermanfaat jika diberikan kepada binatang piaraan saja.
  16. Anakku : Janganlah kamu menelan karena manisnya sesuatu dan janganlah kamu langsung memuntahkan sesuatu karena pahitnya. Karena YANG MANIS BELUM TENTU MENIMBULKAN KESEGARAN, dan YANG PAHIT ITU BELUM TENTU MENIMBULKAN KEGETIRAN.
  17. Anakku : MAKANLAH makananmu bersama-sama dengan ORANG YANG TAQWA dan MUSYAWARAHKANLAH urusanmu dengan para ALIM ULAMA dengan cara memohon nasihat kepadanya.
  18. Anakku : bukanlah suatu kebaikan namanya bilamana engkau selalu mencari ilmu namun engkau tidak mengamalkanya. Hal itu tak ubahnya bagaikan seorang yang mencari kayu bakar, banyak terkumpul maka ia tidak kuat memikulnya tetapi ia masih selalu menambahnya juga
  19. Anakku : bila engkau ingin menemukan KAWAN SEJATI, maka ujilah dahulu dengan membuat dia MARAH bila dalam kemarahanya itu dia masih berusaha menginsyafkan atau menyadarkan kamu, maka bolehlah dia engkau ambil sebagai kawan. Bila tidak demikian maka berhati-hatilah engkau terhadapnya.
  20. Anakku : Selalulah BAIK TUTUR KATAMU dan HALUS BUDI BAHASAMU serta MANIS WAJAHMU, karena engkau akan disukai orang melebihi sukanya seseorang terhadap orang lain yang pernah memberikan barang berharganya.
  21. Anakku : bila engkau BERTEMAN, tempatkan dirimu padanya sebagai orang yang TIDAK MENGHARAPKAN SESUATU DARIPADANYA namun BIARKAN DIA YANG MENGHARAPKAN SESUATU DARIMU.
  22. Anakku : Jadikanlah dirimu dalam segala perilakumu sebagai orang yang TIDAK INGIN MENERIMA PUJIAN atau orang yang mengharapkan sanjungan orang lain, karena motivasi riya/pamrih itu menimbulkan CELA dan MENGECEWAKAN DIRIMU.
  23. Anakku : usahakanlah agar mulutmu jangan sampai mengeluarkan kata-kata yang busuk dan kotor serta kasar, karena engkau akan LEBIH SELAMAT BILA BERDIAM DIRI. Kalau berbicara usahakanlah agar bicaramu mendatangkan manfaat bagi orang lain.
  24. Anakku : janganlah engkau CONDONG KEPADA URUSAN DUNIA dan hatimu selalu direpotkan dunia saja karena engkau diciptakan kedunia bukanlah untuk dunia saja. Sesungguhnya tak ada makhluk yang paling hina dari pada orang yang terpedaya oleh dunia.
  25. Anakku : janganlah engkau mudah tertawa kalau bukan karena sesuatu yang menggelikan, engkau berjalan tanpa tujuan pasti, janganlah engkau menanyakan sesuatu yang tidak ada gunanya bagimu, janganlah menyia-nyiakan hartamu.
  26. Anakku : Barang siapa yang PENYAYANG AKAN DISAYANG, barang siapa pendiam tentu akan selamat dari berkata yang mengandung racun, dan barang siapa yang tidak bisa menahan lidahnya dari berkata kotor tentulah akan menyesal.
  27. Anakku : Musyawarahkah engkau dengan orang ULAMA dan ILMUWAN, perhatikan lah nasihat dan perkataanya karena sesungguhnya menyejukan hati jika mendengarkan nasehatnya menghidupkan hati dengan cahaya hikmah dari mutiara kata-katanya bagaikan tanah yang subur tersiram air hujan.
  28. Anakku : AMBILLAH DUNIA SEKEDAR KEPERLUANMU, dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk bekal akhiratmu. Janganlah kau tendang dunia ini ke keranjang sampah karena nanti engkau akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain. Sebaliknya jangan engkau peluk dunia ini serta merengguk habis airnya karena sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka.
Semoga bermanfaat.
read more

26 September 2013

Perkenankanlah Aku MencintaiMu Semampuku

Ya Allah... Tuhanku,
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintaiMu…
Lembar demi lembar kitab kupelajari…
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi…
Tentang cinta para nabi
Tentang kasih para sahabat
Tentang mahabbah para anbiya
Tentang kerinduan para syuhada

Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan…

Tapi Rabbii,
Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan kemudian tahun berlalu…
Aku berusaha mencintaiMu dengan cinta yang paling utama, tapi…
Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untukMu…
Aku makin merasakan gelisahku membadai…
Dalam cita yang mengawang
Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi…
Hingga aku terhempas dalam jurang
Dan kegelapan…

Wahai Ilahi,
Kemudian berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun berlalu…
Aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi dan menegakkan jiwaku kembali
Menatap, memohon dan menghibaMu:
Allahu Rahiim, Ilaahi Rabbii,
Perkenankanlah aku mencintaiMu,
Semampuku
Allahu Rahmaan, Ilaahi Rabii
Perkenankanlah aku mencintaiMu
Sebisaku
Dengan segala kelemahanku

Ilaahi,
Aku tak sanggup mencintaiMu
Dengan kesabaran menanggung derita
Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al musthafa
Karena itu izinkan aku mencintaiMu
Melalui keluh kesah pengaduanku padaMu
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku

Rabbii,
Aku tak sanggup mencintaiMu seperti Abu bakar, yang menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan Engkau dan RasulMu bagi diri dan keluarga. Atau layaknya Umar yang menyerahkan separo harta demi jihad. Atau Utsman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk syiarkan dienMu. Izinkan aku mencintaiMu, melalui seratus-dua ratus perak yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan, pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan. Pada makanan–makanan sederhana yang terkirim ke handai taulan.

Ilaahi, aku tak sanggup mencintaiMu dengan khusyuknya shalat salah seorang shahabat NabiMu hingga tiada terasa anak panah musuh terhunjam di kakinya. Karena itu Ya Allah, perkenankanlah aku tertatih menggapai cintaMu, dalam shalat yang coba kudirikan terbata-bata, meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia.

Robbii, aku tak dapat beribadah ala para salafush sholih, yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta denganMu. Maka izinkanlah aku untuk mencintaimu dalam satu-dua rekaat lailku. Dalam satu dua sunnah nafilahMu. Dalam desah napas kepasrahan tidurku.

Yaa, Maha Rahmaan,
Aku tak sanggup mencintaiMu bagai para al hafidz dan hafidzah, yang menuntaskan kalamMu dalam satu putaran malam. Perkenankanlah aku mencintaiMu, melalui selembar dua lembar tilawah harianku. Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.

Yaa Rahiim
Aku tak sanggup mencintaiMu semisal Sumayyah, yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya DienMu. Seandai para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihadnya bagiMu. Maka perkenankanlah aku mencintaiMu dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk dakwahMu. Maka izinkanlah aku mencintaiMu dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru.

Allahu Kariim, aku tak sanggup mencintaiMu di atas segalanya, bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya, dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya. Maka izinkanlah aku mencintaiMu di dalam segalanya. Izinkan aku mencintaiMu dengan mencintai keluargaku, dengan mencintai sahabat-sahabatku, dengan mencintai manusia dan alam semesta.

Allaahu Rahmaanurrahiim, Ilaahi Rabbii
Perkenankanlah aku mencintaiMu semampuku. Agar cinta itu mengalun dalam jiwa. Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku.

read more

15 September 2013

Sudahlah...

Cukuplah sudah kita akhiri pengembaraan yang sekian lama membawa makna, dan biarlah yang sudah terjadi lupakan saja. Sudah saatnya kita bangkit melukis wajah cakrawala dengan harapan baru untuk memimpin waktu. Bersama senandung suka duka yang akan terlewati, dalam perbedaan bersama mari kita satukan rasa, demi wujudkan mimpi untuk menjadi nyata.

read more
Next Prev home
Alexa Rank
TopOfBlogs Text Backlink Exchanges My Ping in TotalPing.com Subscribe in Bloglines Add to The Free Dictionary