My Info

.: SELAMAT DATANG :.

Terimakasih sudah berkunjung disini, Saya berharap semoga artikel di Blog ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan bagi kita.

Catatan Pesan :

"Aku tidak pernah tahu hari akhir yang akan ditetapkan untukku, maka kujadikan hari-hariku seluruhnya layaknya hari terakhir, karena bisa saja dan pasti datangnya diantara hari-hariku nanti ada yang menjadi hari terakhir bagiku..."

Yan Sofyanz

    -

03 Agustus 2010

Perayaan Maulid Rasulullah dalam sorotan Islam

0 komentar
Segala puji bagi Allah, semoga shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya, serta orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah. Telah berulang kali muncul pertanyaan tentang hukum upacara atau peringatan maulid Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam; mengadakan ibadah tertentu pada malam itu, mengucapkan salam atas beliau dan berbagai macam perbuatan lainnya.

Jawab: Harus dikatakan, bahwa tidak boleh mengadakan kumpul-kumpul/ pesta-pesta pada malam kelahiran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga malam lainnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan baru (bid’ah) dalam agama, selain Rasulullah tidak pernah mengerjakanya, begitu pula Khulafaaurrasyidin, para sahabat lain dan para Tabi’in yang hidup pada kurun paling baik, mereka adalah kalangan orang-orang yang lebih mengerti terhadap sunnah, lebih banyak mencintai Rasulullah dari pada generasi setelahnya, dan benar-benar menjalankan syariatnya.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
من أحـدث في أمـرنا هذا ما ليس منـه فهـو رد “، أي مـردود
“Barang siapa mengada adakan (perkara baru) dalam urusan (agama) kami yang (sebelumnya) tidak pernah ada, maka dia tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain beliau bersabda:
عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين بعدي، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
“Wajib atas kalian semua untuk berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku, berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah perbuatan baru (dalam agama), karena setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu kesesatan” (HR. Abu Daud dan Turmidzi)

Maka dalam dua hadits ini kita dapatkan suatu peringatan keras, yaitu agar kita senantiasa waspada, jangan sampai mengadakan perbuatan bid’ah apapun, begitu pula mengerjakannya.
Firman Allah ta’ala dalam kitab-Nya: 

وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا واتقوا الله إن الله شديد العقاب
“Dan apa yang dibawa Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ia, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha keras siksaan- Nya” (Al-Hasyr: 7)
فليحـذر الذين يخالفـون عن أمـره أن تصيبـهم فتنة أو يصيبـهم عذاب أليم
“Karena itu hendaklah orang orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau adzab yang pedih” (An-Nur: 63)
لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang orang yang mengharap (rahmat ) Allah, dan ( kedatangan ) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab: 21)
والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه وأعد لهم جنات تجري تحتها الأنهار خالدين فيها أبدا ذلك الفوز العظيم
“Orang-orang terdahulu lagi pertama kali (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka, dan merekapun ridho kepada-Nya, serta Ia sediakan bagi mereka syurga syurga yang disana mengalir sungai-sungai, mereka kekal didalamnya, itulah kemenangan yang besar” (At taubah: 100)
اليوم أكملت لكم دينكـم وأتممت عليكـم نعمتي ورضيت لكـم الإسلام دينا
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan atas kalian ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama kalian” (Al-Maidah: 3)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menerangkan kesempurnaan Islam dan melarang melakukan bid’ah, karena mengada-adakan sesuatu hal baru dalam agama, seperti peringatan peringatan ulang tahun, berarti menunjukkan bahwasanya Allah belum menyempurnakan agama-Nya buat umat ini, berarti juga Rasulullah itu belum menyampaikan apa-apa yang wajib dikerjakan umatnya, sehingga datang orang-orang yang kemudian mengada-adakan sesuatu hal baru yang tidak diperkenankan oleh Allah, dengan anggapan bahwa cara tersebut merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak diragukan lagi, bahwa cara tersebut terdapat bahaya yang besar, lantaran menentang Allah Ta’ala, begitu pula menentang Rasulullah. Karena sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya, dan telah mencukupkan ni’mat-Nya untuk mereka.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalahnya secara keseluruhan, tidaklah beliau meninggalkan suatu jalan menuju syurga, serta menjauhi diri dari neraka, kecuali telah diterangkan oleh beliau kepada seluruh ummatnya sejelas jelasnya.
Sebagaimana telah disabdakan dalam sebuah hadits, dari Ibnu ‘Umar radhiallahu anhuma bahwa beliau bersabda
ما بعث الله من نبي إلا كان حقا عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم وينذرهم عن شر ما يعلمه لهم
“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan diwajibkan baginya agar menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diajarkan kepada mereka, dan memperingatkan mereka dari kejahatan yang telah ditunjukkan kepada mereka” (HR. Muslim)
Tidak dapat dipungkiri, bahwasanya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terbaik diantara para Nabi yang lain, beliau merupakan penutup bagi mereka; seorang Nabi yang paling sempurna dalam menyampaikan da’wah dan nasehatnya diantara mereka semua.
Jika seandainya upacara peringatan maulid Nabi itu betul-betul datang dari agama yang diridhai Allah, niscaya Rasulullah menerangkan kepada umatnya, atau beliau menjalankan semasa hidupnya, atau paling tidak, dikerjakan oleh para sahabat. Maka jika semua itu belum pernah terjadi, jelaslah bahwa hal itu bukan dari ajaran Islam sama sekali, dan merupakan seuatu hal yang diada-adakan (bid’ah), dimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya agar supaya dijauhi, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam dua hadits di atas, dan masih banyak hadits-hadits lain yang senada dengan hadits tersebut. Seperti sabda beliau dalam salah satu khutbah Jum’at nya:
أما بعد، فإن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة
“Amma Ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah kitab Allah (Al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek-jelek perbuatan (dalam agama) ialah perkara yang diada-adakan (bid’ah), sedang tiap-tiap bid’ah itu adalah kesesatan” (HR. Muslim)

Masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur’an serta hadits-hadits yang menjelaskan masalah ini, berdasarkan dalil-dalil inilah para ulama bersepakat untuk mengingkari upacara peringatan maulid Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan memperingatkan agar waspada terhadapnya.
Tetapi orang orang yang datang kemudian menyalahinya, yaitu dengan membolehkan hal itu semua selama di dalam acara itu tidak terdapat kemungkaran seperti berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, bercampurnya laki laki dan perempuan (yang bukan mahram), pemakaian alat-alat musik dan lain sebagainya dari hal-hal yang menyalahi syariat, mereka beranggapan bahwa ini semua termasuk bid’ah hasanah padahal kaidah syariat mengatakan bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia hendaknya dikembalikan kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا
“Hai orang orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri (pemimpin) di antara kalian, kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (An-Nisa’: 59)
وما اختلفتم فيه من شيء فحكمه إلى الله ذلكم الله ربي عليه توكلت وإليه أنيب
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah (Yang mempunyai sifat-sifat demikian), itulah Tuhanku, Kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan kepada-Nya-lah aku kembali” (Asy-Syuro: 10)

Ternyata setelah masalah ini (hukum upacara maulid Nabi) kita kembalikan kepada kitab Allah (Al-Qur’an), kita dapatkan suatu perintah yang menganjurkan kita agar mengikuti apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah, menjauhi apa apa yang dilarang oleh beliau, dan (Al-Qur’an) memberi penjelasan pula kepada kita bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyempurnakan agama umat ini.
Dengan demikian upacara peringatan maulid Nabi ini tidak sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia bukan dari ajaran agama yang telah disempurnakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita, dan diperintahkan agar mengikuti sunnah Rasul, ternyata tidak terdapat keterangan bahwa beliau telah menjalankannya, (tidak) memerintahkannya, dan (tidak pula) dikerjakan oleh sahabat sahabatnya.
Berarti jelaslah bahwasanya hal ini bukan dari agama, tetapi ia adalah merupakan suatu perbuatan yang diada-adakan, perbuatan yang menyerupai hari hari besar ahli kitab, Yahudi dan Nasrani.
Hal ini jelas bagi mereka yang mau berfikir, berkemauan mendapatkan yang haq, dan mempunyai keobyektifan dalam membahas; bahwa upacara peringatan maulid Nabi bukan dari ajaran agama Islam, melainkan merupakan bid’ah-bid’ah yang diada-adakan, dimana Allah memerintahkan Rasul-Nya agar meninggalkanya dan memperingatkan agar waspada terhadapnya, tak layak bagi orang yang berakal tertipu karena perbuatan perbuatan tersebut banyak dikerjakan oleh orang banyak diseluruh jagat raya, sebab kebenaran (Al-Haq) tidak bisa dilihat dari banyaknya pelaku (yang mengerjakannya), tetapi diketahui atas dasar dalil-dalil syara’. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani:
وقالوا لن يدخل الجنة إلا من كان هودا أو نصارى تلك أمانيهم قل هاتوا برهانكم إن كنتم صادقين
“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: sekali kali tak (seorangpun) akan masuk sorga, kecuali orang orang yang beragama Yahudi dan Nasrani. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka; katakanlah: tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang orang yang benar” (Al-Baqarah: 111)
وإن تطع أكثر من في الأرض يضلوك عن سبيل الله إن يتبعون إلا الظن وإن هم إلا يخرصون
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang orang yang berada dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah ; mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak lain hanyalah menyangka-nyangka” (Al-An’am: 116 )

Lebih dari itu, upacara peringatan maulid Nabi ini –selain bid’ah– tidak lepas dari kemungkaran-kemungkaran, seperti bercampurnya laki laki dan perempuan (yang bukan mahram), pemakaian lagu-lagu dan bunyi-bunyian, minum-minuman yang memabukkan, ganja dan kejahatan-kejahatan lainya yang serupa.
Kadangkala terjadi juga hal yang lebih besar dari pada itu, yaitu perbuatan syirik besar, dengan sebab mengagungkan Rasulullah secara berlebih-lebihan atau mengagungkan para wali, berupa permohonan do’a, pertolongan, dan rizki. Mereka percaya bahwa Rasul dan para wali mengetahui hal hal yang ghaib, dan macam-macam kekufuran lainnya yang sudah biasa dilakukan orang banyak dalam upacara malam peringatan maulid Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam itu.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إياكم والغلو في الدين، فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين
“Janganlah kalian berlebih lebihan dalam agama, karena berlebih lebihan dalam agama itu telah menghancurkan orang orang sebelum kalian”

لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم، إنما أنا عبد، فقولوا عبد الله ورسولهرواه البخاري في صحيحه من حديث عمر رضي الله
“Janganlah kalian berlebih lebihan dalam memujiku sebagaimana orang orang Nasrani memuji anak Maryam, Aku tidak lain hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : hamba Allah dan Rasul Allah” (HR. Bukhari dari ’Umar radhiallahu anhu)

Yang lebih mengherankan lagi yaitu banyak diantara manusia itu ada yang betul-betul giat dan bersemangat dalam rangka menghadiri upacara bid’ah ini, bahkan sampai membelanya, sedang mereka berani meninggalkan sholat Jum’at dan sholat jama’ah yang telah diwajibkan oleh Allah kepada mereka, dan sekali-kali tidak mereka indahkan. Mereka tidak sadar kalau mereka itu telah mendatangkan kemungkaran yang besar, disebabkan karena lemahnya iman, kurangnya berfikir, dan berkaratnya hati mereka, karena bermacam-macam dosa dan perbuatan maksiat. Marilah kita sama-sama meminta kepada Allah agar tetap memberikan limpahan karunia-Nya kepada kita dan kaum muslimin.

Diantara pendukung maulid itu ada yang mengira, bahwa pada malam upacara peringatan tersebut Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam datang, oleh kerena itu mereka berdiri menghormati dan menyambutnya, ini merupakan kebatilan yang paling besar, dan kebodohan yang paling nyata. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan bangkit dari kuburnya sebelum hari kiamat, tidak berkomunikasi kepada seorangpun, dan tidak menghadiri pertemuan pertemuan umatnya, tetapi beliau tetap tinggal didalam kuburnya sampai datang hari kiamat, sedangkan ruhnya ditempatkan pada tempat yang paling tinggi (‘Illiyyin) di sisi Tuhan-Nya, itulah tempat kemuliaan.
Firman Allah dalam Al-Qur’an:
ثم إنكم بعد ذلك لميتون ثم إنكم يوم القيامة تبعثون
“Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian pasti mati, kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat” (Al-Mu’minun: 15-16)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أنا أول من ينشق عنه القبر يوم القيامة، وأنا أول شافع وأول مشفع
“Aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan/ dibangunkan diantara ahli kubur pada hari kiamat, dan aku adalah orang yang pertama kali memberi syafa’at dan diizinkan memberikan syafa’at”
Ayat dan hadits diatas, serta ayat-ayat dan hadits-hadits yang lain yang semakna menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan mayat-mayat yang lainnya tidak akan bangkit kembali kecuali sesudah datangnya hari kebangkitan. Hal ini sudah menjadi kesepakatan para ulama, tidak ada pertentangan di antara mereka. Maka wajib bagi setiap individu muslim memperhatikan masalah masalah seperti ini, dan waspada terhadap apa-apa yang diada-adakan oleh orang-orang bodoh dan kelompoknya, dari perbuatan perbuatan bid’ah dan khurafat, yang tidak diturunkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Hanya Allah-lah sebaik baik Pelindung kita, kepada-Nya lah kita berserah diri dan tidak ada kekuatan serta kekuasaan apapun kecuali kepunyaan-Nya. Sedangkan ucapan shalawat dan salam atas Rasulullah adalah merupakan pendekatan diri kepada Allah yang paling baik, dan merupakan perbuatan yang baik, sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an:
إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما
“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi, hai orang orang yang beriman, bersholawatlah kalian atas Nabi dan ucapkanlah salam dengan penghormatan kepadanya” (Al-Ahzab: 56)

Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
من صلى علي واحدة صلى الله عليه بها عشرا
“Barang siapa yang mengucapkan sholawat kepadaku sekali, maka Allah akan bersholawat (memberi rahmat) kepadanya sepuluh kali lipat”
Shalawat itu disyariatkan pada setiap waktu, dan hukumnya Muakkadah jika diamalkan pada ahir setiap sholat, bahkan sebagian para ulama mewajibkannya pada tasyahud akhir di setiap shalat, dan sunnah muakkadah pada tempat lari Jum’at dan malamnya, sebagaimana hal itu diterangkan oleh hadits-hadits yang cukup banyak jumlahnya.
Allah-lah tempat kita mem
ainnya, diantaranya setelah adzan, ketika disebut nama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, pada h
ohon, untuk memberi Taufiq kepada kita sekalian dan kaum muslimin, dalam memahami agama-Nya, dan memberi mereka ketetapan iman, semoga Allah memberi petunjuk kepada kita agar tetap kosisten dalam mengikuti sunnah, dan waspada terhadap bid’ah, karena Dia-lah Maha Pemurah dan Maha Mulia, semoga pula shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada junjungan besar Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. 

(Dikutip dari  الحذر من البدع  Tulisan Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz, Mufti Saudi Arabia. Penerbit Departemen Agama Saudi Arabia. Edisi Indonesia “Waspada terhadap Bid’ah”)

Baca Artikel Menarik Lainnya di :: Sekedar Berbagi Rasa ::

Artikel Perayaan Maulid Rasulullah dalam sorotan Islam Dipublikasikan pada hari Selasa, Agustus 03, 2010. Semoga Tulisan ini dapat memberi manfaat dan menambah Wawasan Kita semua. Terimakasih telah berkunjung di Blog ini serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Jazakumullahu khoiron.


0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev home
Alexa Rank
TopOfBlogs Text Backlink Exchanges My Ping in TotalPing.com Subscribe in Bloglines Add to The Free Dictionary