My Info

.: SELAMAT DATANG :.

Terimakasih sudah berkunjung disini, Saya berharap semoga artikel di Blog ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan bagi kita.

Catatan Pesan :

"Aku tidak pernah tahu hari akhir yang akan ditetapkan untukku, maka kujadikan hari-hariku seluruhnya layaknya hari terakhir, karena bisa saja dan pasti datangnya diantara hari-hariku nanti ada yang menjadi hari terakhir bagiku..."

Yan Sofyanz

    -

09 Januari 2013

Menggapai Keikhlasan Hati

Peran hati bagi seluruh anggota tubuh ibarat raja bagi para prajuritnya. Semua bekerja berdasarkan perintahnya dan tunduk kepadanya. Karena perintah hatilah istiqomah dan penyelewengan ada. Hati adalah raja, sedangkan seluruh tubuh adalah pelaksana titah-titahnya. Hati yang selamat adalah hati yang terbebas dari setiap syahwat dan syubhat, sedangkan hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal siapa Robb-nya, siapa Nabinya dan apa agamanya. Hati seperti ini selalu berjala bersama hawa nafsu dan kenikmatan duniawi sehingga amal perbuatannya hanyalah mengharapkan pujian dan perhatian orang lain. Ikhlas merupakan sifat terpuji dalam hati yang akan menghiasi perilaku seorang Muslim. Segalanya karena Alloh dan untuk-Nya semata. Ikhlas adalah perhiasan hati yang akan menyelamatkan seseorang dari keruhian akhirat, tanpa ikhlas amal perbuatan akan sia-sia tiada guna. Ikhlas artinya memurnikan amal dari setiap noda yang mengotori. Dengan kata lain, menjadikan Alloh sebagai satu-satunya tujuan dalam segala amal perbuatan dan perkataan, baik lahir maupun batin. Mukhlis atau orang yang ikhlas adalah orang yang tidak peduli apabila manusia tidak memberikan penghargaan kepadanya, karena kejujuran hatinya kepada Alloh. Ia pun tidak suka bila orang lain memperhatikan amalnya sekecil apapun. Sesungguhnya pondasi terbesar dan terpenting dalam agama Islam adalah mewujudkan keikhlasan kepada Alloh dalam melaksanakan berbagai aktivitas peribadatan kepada-Nya serta menjauhkan diri dan berhati-hati dari lawan dan musuh keikhlasan tersebut, seperti riya, sum’ah, ujub dan lainnya. Berdasarkan hal tersebut, maka sangatlah perlu mengetahui urgensi dan pentingnya ikhlash. Diantaranya adalah sebagai berikut:

Sebagai amal perbuatan hati yang terpenting
Ikhlas merupakan amalan hati yang sangat penting, yaitu sebagai dasar dan syarat diterimanya amal dan perbuatan. Tanpa ikhlas, seseorang akan tersesat dan menjadi orang-orang yang merugi. Sebaliknya, dengan ikhlas amal perbuatan akan menjadi agung disisi Alloh sekalipun amal itu kecil dalam pandangan orang lain. Ibnu Qayyim berkata: “Amal perbuatan hati adalah dasar dan perbuatan, anggota badan merupakan pengikut dan penyempurna saja, dan sesungguhnya niat itu bagaikan ruh sedangkan amal perbuatan bagaikan jasad”. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda: “Sesungguhnya Alloh tidak memandang kepada jasad-jasad dan rupa-rupa kalian, akan tetapi Dia memandang kepada hati dan amal-amal kalian”. (HR. Muslim)

Syarat diterimanya ibadah adalah :
Ikhlas dan amal ibadah yang dikerjakan sesuai dengan tuntunan Rosululloh.

Tanpa ikhlas peribadatan hanya bagaikan debu yang beterbangan. Sudah sepatutnya bagi seorang muslim untuk memperhatikan keikhlasan dalam beramal. Janganlah ia melelahkan dirinya dengan memperbanyak amal, namun tiada guna dan arti. Sebab, boleh jadi seseorang memperbanyak amal ketaatan namun hanya akan memperoleh kelelahan di dunia dan adzab di akhirat. 

Allah berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”.(QS. Al-Bayyinah : 5).

Rosululloh bersabda: “Barang siapa yang mencari suatu ilmu yang seharusnya hanya untuk mengharapkan wajah Alloh semata, tetapi ia mempelajarinya untuk mencari perhiasan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan wanginya surga pada hari Kiamat kelak.”(HR. Abu Dawud) 

Imam al-‘Izz bin ‘Abdis Salam berkata: “Ikhlas dalam beribadah adalah syarat (diterimanya ibadah).” Syaikh Shiddiq Hasan Khan juga berkata: “Tidak ada perbedaan pendapat, bahwa ikhlas merupakan syarat sah dan diterimannya amal perbuatan”.

Benteng dari bujukan setan

Ketahuilah! Sesungguhnya setan adalah musuh nyata bagi manusia.
Alloh berfirman: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), Karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu Hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”.(QS. Fathir : 6)

Setan dan bala tentaranya berusaha keras untuk menjerumuskan umat manusia dari jalan Alloh. Setan memiliki bujukan maut guna menjerat manusia agar menjadi penghuni neraka jahanam bersamanya. Alloh telah menjelaskan kepada manusia beberapa tindakan preventif (pencegahan) dan kuratif (penyembuhan) agar mereka tidak terperangkap oleh bujukan setan. Salah satunya adalah dengan ikhlas dalam beramal. Ikhlas buka hanya sebagai amalan hati yang mendapatkan kedudukan tinggi disisi Alloh dan paling utama, juga sebagai benteng orang Muslim dari bujuk rayu setan dan dari fitnah orang-orang yang sesat lagi menyesatkan. Setan tidak akan mampu membobol benteng seorang Mukmin yang beribadah dengan ikhlas. 

Alloh berfirman: “Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka”.(QS. Shad : 82-83).

Akhlak orang-orang mulia 

Para salafush shaleh sangat memperhatikan niat ikhlas mereka dan saling memberikan wasiat antara satu dan lainnya untuk senantiasa mengikhlaskan niat dalam setiap amal yang mereka lakukan.
‘Umar bin al-Khathab pernah menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari yang isinya antara lain: “Barang siapa yang niatnya ikhlas karena Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan dirinya apa-apa yang menjadi milik orang lain.” Dan juga sebagaimana yang sudah masyur bahwa para salafush shaleh selalu memulai kitab-kitabnya dengan hadits, “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung niatnya”. Hal ini sebagai bentuk pengingatan kepada para pembaca kitab, khususnya untuk mengikhlaskan niat. Imam ‘Abdur Rahman bin Mahdi berkata: “Barang siapa yang ingin mengarang suatu kitab, maka hendaknya ia memulai tulisannya dengan hadits ini.”

Wallahu a'lam bi showab.
Semoga bermanfaat.

Baca Artikel Menarik Lainnya di :: Sekedar Berbagi Rasa ::

Artikel Menggapai Keikhlasan Hati Dipublikasikan pada hari Rabu, Januari 09, 2013. Semoga Tulisan ini dapat memberi manfaat dan menambah Wawasan Kita semua. Terimakasih telah berkunjung di Blog ini serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Jazakumullahu khoiron.


Next Prev home
Alexa Rank
TopOfBlogs Text Backlink Exchanges My Ping in TotalPing.com Subscribe in Bloglines Add to The Free Dictionary